Categories
Parenting

Tips Menasihati Batita

Si Kecil kini makin cerdas, makin banyak tingkahnya. Tapi perkembangannya memang belum sempurna, masih banyak lagi yang harus dipelajarinya. Karenanya, menasihati batita perlu trik tersendiri. Menangis, menjadi senjata batita saat kita menasihatinya. Tak jarang, ia punya ngambek, bisa jawaban yang lebih tangkas daripada yang diperkirakan. Untuk menasihati pun, kita harus putar otak agar tak berbalik menjadi senjata makan tuan.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Titi Sahidah Fitriana , dosen dan psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas YARSI Jakarta, berbagi triknya untuk Mama dan Papa di rumah. Berikan pilihan yang sama positifnya. “Arsaaa… Mau makan atau enggak?” “Ndaaaakk…” “Lo, kok enggak mau makan? Harus mau makan.. kalo nggak makan nanti kamu sakit!” ketika menasihati anak, sering kali kita memberikan opsi yang salah satunya tidak kita harapkan untuk dipilih. Dalam contoh di atas, kita sebenarnya tidak ingin si kecil mogok makan, bukan? Karena itu, sebaiknya berikan dua pilihan yang sesuai dengan harapan orangtua.

Dengan demikian, ia akan mengikuti harapan orangtua tanpa merasa dipaksa. Misalnya, “Hayo, kamu mau makan ditemani Mama atau Papa?” atau “Kamu mau makan dengan tahu atau tempe?” Sampaikan pesan bukan emosi. Ketika Tari melihat Dinda merebut boneka Sofi , secara refl eks Tari berkata dengan suara keras, “Eh, Dinda! Jangan merebut begitu, dong.” Dinda terkejut, tapi wajahnya tampak bingung. Apalagi ketika orang-orang di sekitarnya justru memerhatikan adegan tersebut. Menjaga amarah saat anak berulah bukan perkara mudah.

Namun, hal ini penting dilakukan karena anak perlu memahami mengapa kita menasihatinya. Apabila yang ditangkap oleh anak adalah amarah kita, maka ia akan belajar merasa takut tetapi tidak mengerti nasihat orangtuanya. Sering kali yang timbul adalah perilaku patuh yang tidak bertahan lama dan hanya dilakukan di hadapan orangtua. Bu kan hal ini yang kita inginkan, bukan? Dalam kasus Tari di atas, akan lebih bermanfaat bagi Dinda dan Sofi apabila Tari langsung mendekati mereka berdua dan berkata, “Dinda, ini mainan Sofi.

Categories
Parenting

Ini Tidak Boleh Itu Tidak Boleh

Awas jatuh! Awas kejedot! Jangan dipegang! Kata-kata ini pasti sering terdengar di rumah Mama Papa yang punya batita. Saking sibuknya melihat si kecil bereksplorasi (yang memang masanya), kita berubah jadi “satpam” yang sibuk melarang ini-itu. Padahal, jadi enggak asyik lagi, lo, buat si batita. Sebabnya, dia jadi terhambat eksplorasinya.

Baca juga : tes toefl Jakarta

Melampiaskan Rasa Ingin Tahu

“Eksplorasi adalah cara paling jitu untuk mengembangkan rasa ingin tahu batita pada lingkungannya, juga tentang dirinya sendiri,” ujar psi kolog Alfa Mardhika. Pada tahap per kembangan ini, batita belajar me ngenali benda-benda yang ada di lingkungan dengan cara meme gang nya. Jadi, eksplorasi penting dilakukan agar wawasan pengetahuan anak terhadap lingkungan bertambah.

Untuk dirinya sendiri, eksplorasi adalah bekalnya untuk berkembang menjadi anak yang percaya diri dan aktif. Karena itu, Alfa sangat menekankan pentingnya memberikan kesempatan eksplorasi kepada ba tita. “Bila batita tidak meng eksplorasi lingkungan, wawasan pe nge tahuannya cenderung kurang berkembang. Ada kemungkinan juga ia menjadi anak yang pasif dalam tumbuh kembangnya.” Melakukan eksplorasi berarti batita sedang menjelajahi rasa ingin tahunya terhadap lingkungan.

Ada beberapa hal atau benda yang mungkin berbahaya bagi anak, hal ini tak dapat dimungkiri. Karena itu diperlukan pendampingan dari orangtua untuk menjaga keselamatan anak. Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi hal ini? Salah satunya dengan menyiapkan rumah atau lingkungan yang aman untuk anak bereksplorasi. Masalahnya, seperti apa lingkungan yang aman untuk bereksplorasi? Jangan-jangan malah terlalu aman sehingga tidak memberikan manfaat yang maksimal untuk batita.

Diajarkan Peduli “Bahaya”

Melarang batita berkegiatan, tentu bukan solusi yang baik. Batita yang banyak dilarang akan cenderung ragu-ragu, kurang percaya diri, bahkan dalam beberapa kasus dapat mengalami kecemasan untuk berperilaku mandiri. “Hal ini dikarenakan anak merasa tidak aman saat orangtua tidak berada di dekatnya. Mereka tidak terbiasa atau mungkin khawatir untuk mencoba sendiri,” ujar ibu satu anak ini. Alih-alih melarang, akan lebih baik bila kita mengajari batita mewaspadai “bahaya”.

Sumber : pascal-edu.com