Categories
Home

Djody Menjadi Ketua Komite

Djody sempat menjadi Ketua Komite Rusia di Kamar Dagang dan Industri Indonesia. Hingga kini, ia aktif sebagai Ketua Perhimpunan Indonesia-Rusia. Urusan persahabatan itu membuat ia mengenal banyak orang Rusia: dari model, pengusaha, pejabat militer di Kremlin, hingga seniman. Kedekatannya dengan Rusia pula yang membuat namanya meramaikan pemberitaan pada 2003. Ia disebut-sebut kecewa karena tak diajak dalam negosiasi pembelian pesawat Sukhoi. Padahal Djody sebenarnya sudah lama mengincar bisnis pesawat tempur dari negeri Lenin dan Tolstoy itu.

Ketika Abdurrahman Wahid duduk di kursi presiden, Djody pernah berusaha merayu sang Presiden supaya membeli sejumlah peralatan tempur Rusia. Kiprah Setiawan Djody tidak cuma di luar negeri. Di Tanah Air, sosoknya tak pernah lepas dari orang-orang besar. Ketika Setdco, perusahaan miliknya, didirikan pada 1974, Djody bermitra dengan Yanto Tjokropranolo, anak mantan Gubernur DKI Tjokropranolo. Dua tahun kemudian, Djody menjajaki bisnis tanker. Ia juga berkongsi dengan Sigit Harjojudanto—putra kedua bekas presiden Soeharto—di bisnis pengangkutan minyak dan gas. Melalui Sigit, Djody mendapat kontrak dari Pertamina untuk mengangkut minyak ke mancanegara.

Djody juga masuk ke sektor pertambangan, telekomunikasi, kelapa sawit, dan tekstil. Tak cuma luwes berbisnis, Djody lihai menjalin kedekatan dengan petinggi negara, dari Soeharto, Megawati Soekarnoputri, hingga Joko Widodo. Kedekatannya dengan Jokowi terjalin sejak di Solo, saat Djody masih aktif menjadi gitaris Kantata Takwa. Jokowi, yang gemar musik rock, kerap melihat band itu berlatih. Hubungan dekat itu terbawa hingga mantan Wali Kota Solo ini melenggang ke Ibu Kota. Saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi pernah meluangkan waktu menghadiri undangan buka puasa di kediaman Djody pada awal Agustus 2013. Saat ditanya apakah ada alasan khusus Jokowi datang ke situ, ”Ini kan senior,” ujar Jokowi sambil menunjuk Setiawan Djody.

Bahkan, ketika Jokowi pindah ke Istana Negara, hubungan mereka tak berhenti. Seorang pengusaha dari Solo yang dekat dengan Jokowi mengatakan beberapa kali Djody mengantar Jokowi ke Bandar Udara Halim Perdanakusuma ketika bepergian ke luar negeri. Salah satunya saat Presiden Jokowi berangkat ke Amerika Serikat pada 24 Oktober 2015. Djody tampak berbincang akrab dengan Presiden Jokowi. Bekas pejabat perusahaan pelat merah mengatakan kedekatan Djody dengan Istana memuluskan jalan Rosneft bermitra dengan Pertamina. Dalam kunjungannya ke Sochi, Rusia, 19 Mei lalu, Jokowi menyatakan akan meningkatkan kerja sama investasi di sejumlah bidang, termasuk pengilangan minyak.

Tapi, menurut Djody, urusan kerja sama Rosneft dan Pertamina murni bisnis, tak ada kaitannya dengan pertemanannya dengan Jokowi. Meski berhasil membantu Rosneft mendapat proyek kilang senilai US$ 13-14 miliar, Djody mengaku tak mendapat imbalan. Ia menunggu proyek kilang terealisasi, kemudian menjadi mitra dalam kerja sama pengelolaan produk petrokimia. ”Saya akan bergabung sebagai partner investment,” ujar Djody. Untuk rencana ini, Djody menggandeng Hendra Rahtomo berbisnis di fasilitas pengolahan petrokimia.

Hendra Rahtomo, yang biasa disapa Romy Soekarno, mengatakan kongsi bisnisnya dengan Djody akan menggandeng konsorsium Jepang, Korea, dan Cina yang memiliki kompetensi di bidang petrokimia. ”Mas Djody menggandeng saya karena perusahaan saya memiliki jaringan di banyak lembaga keuangan,” kata Presiden Direktur Mahadana Group ini, Kamis pekan lalu.

Romy mengakui Mohamad Rizky Pratama, putra sulung bekas presiden Megawati Soekarnoputri, ada di perusahaan yang sama. Namun dia memastikan kongsi bisnis dengan Djody tak ada hubungannya dengan Rizky Pratama. ”Pratama tidak ikut campur. Saya yang in charge di sini,” ujar Romy. Ia membenarkan ikut menemani Djody datang ke Kementerian Energi, akhir April lalu.

Website : kota-bunga.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *