Categories
News

Laporan Utama – Saat Tepat Gunakan Mobil Niaga Part 3

Laporan Utama – Saat Tepat Gunakan Mobil Niaga Part 3


Peran Berbeda Pengalaman lain dipaparkan oleh Yudhi Winarsono Basuki, pengusaha olahan ikan Desa Wangunreja, Kec. Nyalindung, Kab. Sukabumi. Saat ini Yudhi memiliki satu unit Daihatsu GranMax blindvan (dibeli 2009), 1 unit Daihatsu GranMax boks (dibeli 2010), 2 unit boks berpendingin merek Toyota dan Isuzu (dibeli 2010), dan 1 unit Suzuki Carry pikap (dibeli 2014). Ia memang tidak fanatik pada merek tertentu dalam memilih mobil untuk operasional usahanya. Pertimbangan utamanya adalah DP dan angsurannya paling murah. Ia memang membeli mobil-mobil tersebut dengan cara leasing. Jangka waktu angsurannya rata-rata empat tahun.

Sumber : Jasa Seo Semarang

Setiap jenis mobil yang ia miliki mempunyai fungsi yang berbedabeda. Mobil pikap ia gunakan untuk mengangkut barang yang berat dengan wilayah operasional dalam kota Sukabumi. Contohnya, mengangkut belanjaan berupa tepung yang beratnya lebih dari 1,5 ton. Mobil boks berpendingin ia gunakan untuk belanja ikan dan mengirim produk ke tempat tujuan yang jauh atau luar kota Sukabumi, seperti Jakarta. Mobil blindvan untuk mengirim produk ke wilayah Sukabumi, Cianjur, dan Bogor. Sedangkan mobil boks untuk belanja bahan yang memerlukan alat angkut tertutup. Sehingga semua produk bisa terhindar dari terpaan sinar matahari dan guyuran air hujan.

Menurut Yudhi kendaraan operasional yang ia miliki berperan penting dalam roda usahanya. “Karena pengiriman produknya jauh dan dalam jumlah banyak. Sementara, untuk belanja kalau harus menyewa jatuhnya mahal. Dengan punya mobil sendiri, penggunaan biaya menjadi lebih efisien. Dari sisi waktu juga lebih efisien dan fleksibel,” ujarnya. Untuk perawatan mobil-mobil tersebut, Yudhi mengaku mengeluarkan biaya antara Rp5 juta – Rp6 juta per bulan. Biaya perawatan itu tentu tak seberapa dibandingkan dengan omzetnya yang berkisar Rp800 juta – Rp1 miliar per bulan. Perawatan kondisi kendaraan memang menjadi sangat penting agar selain nyaman, juga menimbulkan rasa aman. Hal inilah yang coba diterapkan oleh White Horse Group guna menarik minat calon konsumennya dengan konsep 3 zero.

Yakni zero accident, zero storing, dan zero complaints. Demi pencapaian hal itu, semua sumber daya manusia dipersiapkan secara baik. Termasuk para sopir. Semua driver sudah mendapat sertifikat defensive driving course. “Jadi sopir tak hanya paham tentang safety drive, tapi mampu menghindarkan diri dari keterlibatan kecelakaan, penyebab kecelakaan, dan korban kecelakaan,” kata Agustono Haliman, direktur operasional White Horse Group (WHG).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *